PERAN PERAWAT DALAM MEMBIMBING SAKARATUL MAUT SEORANG PASIEN MUSLIM

Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu, keluarga, dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai, mempertahankan, atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati. Perawat merupakan profesi yang pekerjaannya banyak berinteraksi dengan pasien(orang sakit). Dimana para pesakit ini sering kali mengalami sakaratul mautnya dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Lalu bagaiman peran perawat ketika seorang pasien muslim mengalami sakaratul maut ?

لقنوا موتا كم لا إله إلا الله

( laqqinuu mautaakum laa ilaha illallah )

Tuntunlah seseorang yang akan meninggal dunia untuk mengucapkan kalimat: ‘Laa ilaaha illa Allah’” (H.R.Muslim: 916)

Peran kita sebagai perawat ketika mendapati pasien yang sedang menghadapi sakaratul ,mautnya adalah dengan membimbingnya untuk mengucapkan “Laa Ilaha Illallah” atau hal tersebut biasa disebut dengan mentalqin. Perawat mempunyai peran dalam hal membimbing rohani pasien. Termasuk dalam mentalqin.

Lalu upaya apa saja yang sebaiknya dilakukan seorang perawat saat embimbing pasiennya saat sakaratul maut ?

  1. Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT.

Pada sakaratul maut perawat sudah seharusnya membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT.

Sebagaimana Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslem. “Jangan sampai seorang dari kamu mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah”

Allah berfirman dalam hadist qudsi,  “Aku ada pada sangka-sangka hambaku,  oleh karena itu bersangkalah kepadaKu dengan sangkaaan yang baik.”

 Selanjutnya Ibnu Abas berkata, “Apabila kamu melihat seseorang menghadapi maut, hiburlah dia supaya bersangka baik pada Tuhannya dan akan berjumpa dengan Tuhannya itu”. Selanjutnya Ibnu Mas´ud berkata : Demi Allah yang tak ada Tuhan selain Dia, seseorang yang berbaik sangka kepada Allah maka Allah berikan sesuai dengan persangkaannya itu. Hal ini menunjukkan bahwa kebaikan apapun jua berada ditangannya.

2. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut

Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)

3. Menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat, Laa Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah. (Mentalqin)

“Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah karena sesungguhnya seseoranng yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya menuju surga”. (HR. Muslim)

Mentalqin orang yang akan meninggal dunia cukup sekali saja, tidak perlu diulang-ulang kecuali apabila setelah di-talqin dia mengucapkan kalimat yang lain maka hendaknya diulang sekali lagi agar akhir ucapannya adalah kalimat syahadat.

Ibnu Al Mubarak berkata: ”Talqinlah orang yang akan meninggal dunia dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ dan jika telah mengucapakannya maka jangan diulangi lagi” (Tadzkirah fi ahwalil mautaa wa umuril akhirah: 30,imam Al Qurthubiy, cet:Daarul ‘Aqidah).

4. Menghadapkannya ke arah kiblat.

Disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw. Hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat :

  1. Tidur terlentang sambil menghadapkan wajahnya ke arah kiblat
  2. Berbaring miring ke kanan dan wajahnya menghadap ke arah kiblat

5. Mendoakan kebaikan kepadanya dan tidaklah mengucapkan sesuatu yang isinya selain kebaikan.

Bila kamu datang mengunjungi orang sakit atau orang mati, hendaklah kami berbicara yang baik karena sesungguhnya malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan. (Imam Muslim)

Ibnu Majah Rasulullah bersabda apabila kamu menghadiri orang yang meninggal dunia di antara kamu, maka tutuplah matanya karena sesungguhnya mata itu mengikuti ruh yang keluar dan berkatalah dengan kata-kata yang baik karena malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan.

Imam An Nawawiy mengatakan: “Di dalam hadits ini terdapat anjuran untuk mengucapkan ucapan yang baik seperti do’a , istighfar,meminta kelembutan dan rahmat Allah untuknya dan yang semisalnya” (Syarh Muslim:6/222)

Berdasarkan hal diatas, hendaknya perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya, mendo’akan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas, dari jasadnya.

REFERENSI :

Materi mentoring FKep Unpad

http://eprints.walisongo.ac.id/176/5/081111029_Bab4.pdf
(di akses pada 12 Juni 2015 pukul 19.47)

http://almanhaj.or.id/content/2570/slash/0/sakaratul-maut-detik-detik-yang-menegangkan-dan-menyakitkan
(di akses pada 18 juni 2015 pukul 21.53)

https://www.scribd.com/doc/52832208/Peran-Perawat-Muslim-Dalam-Sakaratul-Maut
(di akses pada 18 juni 2015 pukul 21.55)

Al-bani, M. Nasrudin., 2011. Tuntutan Lengkap Menguru Jenazah.Jakarta : Gema Insani Press.

Iklan

TANDA-TANDA SAKARATUL MAUT & KEMATIAN

  • Tanda-tanda Sakaratul Maut

Ciri-ciri secara medis orang yang akan melepaskan nafasnya yang terakhir (sakaratul maut), adalah sebagai berikut :

  1. Penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab.
  2. Kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
  3. Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
  4. Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes.
  5. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.

  • Tanda-tanda Kematian :
100 hari

:

Seluruh badan terasa bergetar.
60 hari

:

Pusat rasa bergerak-gerak.
40 hari

:

Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.

7 hari

:

Mengidam makanan.
5 hari

:

Anak lidah bergerak-gerak.
3 hari

:

Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
2 hari

:

Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
1 hari

:

Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh dan ashar.

Saat akhir

:

Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan) Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan lagi bercakap-cakap.

SAKARATUL MAUT

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahala kalian” (Al-Imran : 185)

Kematian merupakan sesuatu yang pasti adanya. Tidak dapat ditebak kapan ia datang, itulah sebabnya kita harus selalu siap akan datangnya kematian. Semua orang tentunya ingin kematiannya dalam keadaan baik (husnul khotimah) dan dilancarkan pada saat menghadapi sakaratul maut. Jangankan kita yang hanya hamba-Nya yang biasa, Rasulullah saw pun ketika ajalnya telah dekat, ia memohon kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam sakaratul mautnya. “Allahumma hawwin ‘alaina fi sakarat al-maut (Ya Allah, Ringankan atas kami saat sakaratul maut).

Sakaratul maut berasal dari bahasa arab, yaitu “sakarat” dan “maut”. Sakarat dapat diartikan dengan “mabuk” sedangkan “maut” berarti kematian. Dengan demikian, sakaratul maut berarti orang yang sedang dimabuk dengan masa-masa kematiannya. Sakaratul maut merupakan proses tercabutnya nyawa manusia, dikenal sebagai sesuatu hal yang menyakitkan menjelang kematian.

Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”.

“Sakitnya sakaratul maut itu, kira-kira tiga ratus kali sakitnya dipukul pedang”. (H.R. Ibnu Abu Dunya).

HOW TO BE A GOOD NURSE

depositphotos_12691901-Young-pretty-nurse-providing-information-guidance.-Cartoon-nurse.-Hospital.“PERAWAT”, hal apa yang ada dalam benak anda saat mendengar kata tersebut ? Banyak definisi bermunculan ketika seseorang ditanya apa itu perawat. Tak dapat dipungkiri di Indonesia profesi perawat saat ini masih dipandang sebelah mata. Masih banyak dari masyarakat yang berpandangan bahwa perawat itu adalah “pembantu” dokter yang jutek, galak, serta tidak ramah.

Mempunyai profesi yang dalam pekerjaannya banyak berinteraksi dengan manusia lain tidaklah mudah. Dalam pekerjaannya, seorang perawat harus menjalankan perannya dalam memberikan asuhan keperawatan serta pelayanan kesehatan kepada klien. Perawat juga harus dapat memahami karakteristik kliennya yang berbeda-beda. Dalam melakukan hal tersebut, perawat sudah seharusnya memiliki sikap dan tata nilai perawat yang dapat mendukung dalam pemberian asuhan dan pelayanan kesehatan pada klien.

“Care, Empati, Altruism”

Ketiga nilai inilah yang kembali muncul saat kita membicarakan perawat dan tata nilai perawat. Seorang perawat dalam melaksanakan tugasnya tidak dapat terlepas dari tiga hal tersebut.

Banyak perawat ataupun mahasiswa keperawatan yang sudah menegetahui akan hal ini. Tentang apa saja tata nilai perawat, serta bagaimana seharusnya perawat bersikap dalam memberikan asuhan keperawatannya kepada klien. Namun lagi-lagi harus kita akui, apa yang diketahui terkadang tidak diamalkan. Apa yang dipelajari, terkadang tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak perawat yang tidak melaksanakan tata nilai perawat yang seharusnya mereka lakukan.

 So, HOW TO BE A GOOD NURSE ?

Ketika kita mempunyai suatu pekerjaan, sudah selayaknya kita bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang kita ambil. Kita sadari, tidak ada pekerjaan yang mudah untuk dijalankan. Terlebih profesi yang dalam pekerjaannya banyak melakukan interaksi dengan manusia lain.

Mari kita ingat kembali, apa saja tata nilai perawat dan bagaimana seharusnya perawat bertindak dalam melakukan asuhan keperawatan kepada pasien. Tak hanya mengingat, tapi INGAT, PAHAMI, AMALKAN. So…..

 Lets check my next post

Tata Nilai Perawat (Care, Empathy, Altruism)

nurses

Seperti yang sudah dijelaskan, ada tiga tata nilai dalam keperawatan, yaitu care, empathy, dan altruism. Sebelum kita membahas lebih lanjt tentang tata nilai perawat, tentu saja kita harus tau pengertian dari tata nilai atau nilai itu sendiri, baik secara umum ataupun dari segi keperawatan.

Nilai secara umum adalah sesuatu yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat. Nilai-nilai berhubungan satu sama lain serta membentuk suatu sistem nilai. Perawat juga telah menetapkan nilai dan harus mengembangkan kesadaran tentang bagaimanan sistem nilai mereka sendiri akan mempengaruhi perawatan klien.

 Tata nilai adalah seperangkat nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seseorang dalam menjalankan tugas dan fungsinya masing-masing. Tata nilai merupakan modal yang amat besar pengaruhnya bagi upaya mewujudkan visi dan misi suatu profesi. Tata nilai perawat meliputi 3 hal :

can-stock-photo_csp14590711 support groups empathy signaltruism

Altruism is ….

altruismNilai terakhir yang harus ada pada perawat adalah Altruism. Altruism bisa dikatakan sebagai sikap mementingkan kepentingan dan kesejahteraan orang lain diatas kepentingan pribadi. Altruism juga dapat dikatakan ketika kita tidak mengharapkan imbalan dari orang yang kita tolong.

Sebagai seorang perawat, sudah seharusnya memiliki sifat ini. Ketika memberikan asuhan keperawatan kepada pasien, perawat seharusnya lebih mementingkan kepentingan pasien dari pada dirinya, dan tidak mengharapkan imbalan apapun atas hal yang dilakukannya kepada pasien.

Ada tiga komponen penting dalam altruism, yaitu :

  • loving others
  • helping them doing their time of need
  • making sure that they are appreciated.

Studi menunjukkan bahwa altruism baik untuk emosional kesejahteraan, dan terukur dapat meningkatkan ketenangan pikiran. Altruisme tentu selalu bersifat konstruktif, membangun, mengembangkan dan menumbuhkan kehidupan sesama. Dengan mengembangakn sikap altruisme dalam diri, tentu akan memberikan dampak posotif pada diri kita, yaitu meningkatnya sikap dan kulaitas pribadi kita. Adapun sikap dan kualitas pribadi dalam altruism, diantaranya :

  • Perhatian
  • Komitmen
  • Kasihan
  • Kemurahan hati
  • Ketekunan

Leeds (Staub, 1978) mengatakan, bahwa tindakan yang dapat dikatakan altruism apabila memenuhi 3 kriteria ini :

  1. Hasilnya baik bagi penolong maupun yang ditolong.
  2. Tindakan tersebut dilakukan secara sukarela, atas dasar empati bukan karena paksaan.
  3. Tindakan itu bukan untuk kepentingan diri sendiri karena tindakan tersebut mengandung resiko tinggi pelaku, pelaku tidak mengharapkan imbalan materi tidak untuk memperoleh persahabatan dan keintiman.

Dalam dunia keperawatan, terdapat beberapa contoh tindakan altruism yang dilakukan oleh profesi perawat dan dapat kita jadikan contoh yang baik, yaitu :

  1. Memberikan perhatian penuh pada pasien juga keluarganya saat memberikan asuhan keperawatan.
  2. Membantu rekan perawat lainnya dalam memberikan asuhan keperawatan ketika mereka mendapatkan kesulitan atau tidak dapat melakukannya.
  3. Menunjukkan perhatian dan kepekaan terhadap masalah sosial yang memiliki hubungan dan pengaruh pada perawatan kesehatan.

Adapun antonim dari altruism, yaitu narsism. Narsism merupakan hal yang bertolak belakang dengan altruism. Narsism bisa diartikan sama dengan egois, perilaku seseorang yang mengutamakan dirinya sendiri dan segala hal mengenai dirinya di anggap lebih penting melebihi kepentingan orang lain.

Tentu saja sebagai seorang perawat sangat harus menjauhi sikap narsism ini. Sudah sepatutnya kita memiliki sikap altruism dan terus mengembangkannya agar sikap altruism dalam diri kita semakin baik lagi.

Empathy is ….

support groups empathy sign

Empathy merupakan salah satu dari dua nilai lainnya yang harus ada pada perawat. Empathy dapat dikatakan suatu kemampuan merasakan emosional orang lain atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Beberapa tokoh menjelaskan tetang pengertian dari empati.

 “Empati adalah keadaan mental yang membuat seseorang mengidentifikasi atau merasa dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.” –KBBI-

 “Empati adalah kegiatan berpikir individu mengenai “rasa” yang dia hasilkan ketika berhubungan dengan orang lain.” -Eileen R. dan Sylvina S- (Kompas, 18 Nop.2006)

    “Empati adalah suatu proses ketika seseorang merasakan perasaan orang lain dan menangkap arti perasaan itu, kemudian mengkomunikasikannya dengan kepekaan sedemikian rupa hingga menunjukkan bahwa ia sungguh-sungguh mengerti perasaan orang lain itu. -Bullmer-

     “Empati merupakan faktor esensial untuk membangun hubungan yang saling memercayai. Ia memandang empati sebagai usaha menyelam ke dalam perasaan orang lain untuk merasakan dan menangkap makna perasaan itu. -Taylor-

      “Empati sebagai penerimaan terhadap perasaan orang lain dan meletakkan diri kita pada tempat orang itu. -Alfred Adler-

     “Empati adalah kemampuan seseorang untuk share-feeling yang dilandasi kepedulian. -Thomas F. Mader & Diane C. Mader- (Understanding One Another: 1990)

Beberapa orang terkadang mengartikan bahwa “empati” dan “simpati” adalah sama. Namun kenyataannya dua hal ini memiliki arti berbeda. Berbeda dengan empati, simpati dapat kita artikan sebagai sikap yang melibatkan perasaan terhadap sesuatu hal, sehingga tidak dapat lagi berfikir objektif. Sebagai seorang sangat perlu memiliki sifat empati, karena dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien kita perlu mengerti apa yang tengah dirasakan oleh klien kita. Setelah kita dapat merasakan apa yang ia rasakan, maka kita dapat memberikan penilaian secara objektif dan memberikan pandangan kita atau solusi ketika klien membutuhkan saran. Sama halnya seperti perilaku caring, empati juga pada dasarnya dimiliki oleh semua orang. Namun sifat empati pada setiap orang berbeda-beda. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sifat empati pada diri seseorang. Adapun faktor-faktor tersebut adalah :

  • Pikiran Optimis
  • Tingkat Pendidikan
  • Keadaan Psikis
  • Pengalaman
  • Usia
  • Jenis Kelamin
  • Latar Belakang Sosial Budaya
  • Status Sosial
  • Beban Hidup

Beberapa hal diatas dapat mempengaruhi rasa empati seseorang. Namun, ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan rasa empati dalam diri.

Peduli

peduli

Seorang perawat perlu peduli kepada pasiennya. Salah satu cara menunjukan kepedulian tersebut adalah dengan menjalin komunikasi yang baik antara perawat dan pasien. Ketika sudah terjalin komunikasi yang baik, maka pasien akan merasa nyaman dengan perawat serta asuhan keperawatan yang diberikan.

Berlatih

wtry1

Seperti kata pepatah “ala bisa karena biasa”. Berlatihlah dalam berempati kepada klien,karena jika sering melakukannya maka sifat empati itu akan tumbuh dengan sendirinya. Semakin sering berempati, maka akan semakin baik sifat empati yang kita miliki.

Berbagi Pengalaman

SHARE2010_11

Cobalah untuk bertukar pengalaman dengan orang disekitar anda, seperti rekan kerja misalnya. Seperti kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Dengan anda bertukar pengalaman bisa menjadikan ilmu anda bertambah dan anda tahu apa yang harus anda lakukan nantinya.

Sosialisasi

1

Sosialisasi sangat perlu adanya. Cobalah untuk bersosialisasi dengan pasien, dengan demikian perawat akan lebih memahami apa yang pasien butuhkan dan semakin tumbuhlah perasaan empati terhadap orang lain.